Resume Ushul Fiqh_Syahrul Anwar


Bab I
Pendahuluan
A.    Urgensi ilmu fiqh dan ushul fiqh
ilmu fiqh dan ushul fiqh tumbuh dan berkembang dengan berpijak dan merujuk kepada Al-Qur’an dan As-sunnah. Ushul fiqh tidak timbul dengan sendirinya, tetapi benih-benihnya sudah ada semenjak zaman Rasullulah dan sahabat. Masalah-masalah utama yang terjadi bagian dari ushul fiqh seperti soal ijtihad, qiyas, nasikh, mansukh, dan tansikh sudah ada pada zaman Rasulullah dan sahabat, kasus yang umum dikemukakan mengenai ijtihad adalah pengguna ijtihad yang dilakukan oleh Muadz Ibn Jabbal. Sebagai konsekuensi dari ijtihad ini adalah qiyas, karena penerapan ijtihad dalam persoalan-persoalan yang bersifat juz’iyah pastilah dengan qiyas. Contoh qiyas yang dapat dikemukakan adlah ucapan Ali dan Abd al-Rahman Ibn ‘Auf mengenai hukuman peminum khamar, yang berbunyi:
bila seseorang meminum khamar, ia akan mengigau, bila mengigau akan menuduh orang berbuat zina, sedangkan hadd (hukuman) bagi orang yang menuduh itu delapan puluh jilid (Al-syaukani, 1973: 125,juz VII).
Adapun pemahaman tentang tansikh dapat dilihat dalam cara Abdullah Ibn Mas’ud dalam menetapkan ‘iddah wanita hamil, dengan menetapkan bahwa batas ‘iddahnya berakhir ketik ia melahirkan. Ini berdasarkan kepada ayat 4 dan 6 surat Ath-thalaq, yang menyatakan bahwa ayat ini turun sesudah turunnya ayat tentang ‘iddah yand ada pada surat Al-Baqarah ayat 228. Di sini terkandung pemahaman uhul, bahwa nash yang datangkemudian dapat menasakh atau mentakhsikh nash yang datang terdahulu.
Pada masa tabi’in, caa mengistinbath hukum semakin berkembang, di antara mereka ada yang menempuh metode mashlahat atau metode qiyas, di samping berpegang pula pada fatwa-fatwa sahabat sebelumnya. Para tabi’in inilah mulai tampak perbedaan-perbedaan dalam memahami hukum, sebagi konsekuensi logis dari perbedaan metode yang digunakan para ulama ketika itu.
Corak perbedaan pemahaman lebih jelas lagi pada masa sesudah tabi’in, atau pada masa al-amimmat al-mujtahidin. Sejalan dengan itu, kaidah-kaidah istinbath yang digunkan juga semakin jelas bentuknya. Abu hanifah misalnya, menempuh metode qiyas dan istihshan. Sementara amalan memreka lebih dapat dipercaya dari pada hadis-hadis ahad.
Sejak zaman nabi muhammad, sahabat, Tabi’in dan sesudahnya, pemikiran hukum islam telah mengalmi perkembangan. Namun demikian corak atau metode pemikiran mereka belum terbukukan dalam tulisan yang sistematis, atauu belum terbubukan sebagai suatu disiplin tulisan yang sistematis, atau belum terbukukan sebagai suatu disiplin ilmu sendiri.
Sejak abad VII atau XIV pada waktu Islam masuk ke Indonesia, yang pertama kali diajarkan adalah tentang cara ibadah, shalat, zakat, puasa, dan haji. Aktivitas ini telah menjadi entitas kehidupan umat islam sejak awal pertumbuhannya, sampai umat islam berkembang hingga abad XXI tauhid fiqh, dan tasawuf. Fiqhlah yang diperlukan dalam ibadah madhah maupun ghairu mahdah.
B.     Perkembangan Buku
Perkembangan kehidupan manusia selalu berjalan sesuai dengan ruang dan waktu, dan ilmu fiqh adalah ilmu yang selalu berkembang karena tuntutan kehidupan aman. Fiqh adalah ilmu yang urgen bagi kehidupan umt islam, baik, di dunia maupun di akhirat, bekal kehidupan manusia. Sejak manusia lahir ke dunia diajarkan adzan dan iqamah, kemudian disyariahkan dengan akikah, zakat, salat, saum, dan haji sebagi Rangkaian ibadah yang berkaitan dengan ilmu fiqh dan ilmu ushul fiqh.
Bab II
Terminologi syari’ah dan fiqh
A.    Syariah
Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang memuat kata syari’ah dengan berbagai tashrifnya (surat al-syura’ ayat 13 dan 21, surat al-madah ayat 48, surat al-‘araf ayat 162, dan surat al-jatsiyah ayat 18. Kata syari’ah menurut bahasa, mempunyai bnyak arti sesuai denga uslub kalimatnya sendiri. Sering kali syari’ah berarti “keteapan Allah bagi hamba-hambanya”. Kadang-kadang juga berarti “ jalan yang ditempuh oleh manusia atau jalan yang menuju air” atau berarti “jelas”.
Dalam surat al-jatsiyah ayat 18 disebutan bahwa syari’ah itu dari Allah, syariah itu harus diikuti dan syariah tidak memperturutkan keinginan hawa nafsu. Syariah dalam arti sempit sama pengertiannya dengan fiqh nabawi yaitu, hukum yang ditunjukan dengan tegas oleh Al-Qur’an atau hadits.
B.     Pengertian fiqh
Di dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 19 ayat yang beraitan dengan kata fiqh dan semuanya dalam bentuk kata kerja, seperto di dalam surat at-Tawbah ayat 122:
“Hendaklah dari tiap-tiap golongan mereka ada serombongan orang yang pergi untuk memahami (mempelajari) agama agar memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Ditarik suatu pengeertian bahwa fiqh itu berarti, mengetahui, memahami, dan mendalami ajaran-ajaran agama secara keseluruhan. Jadi pengertian fiqh dalam arti sangat luas sama dengan pengertian syariah dalam arti yang sangat luas. Inilah pengertian fiqh pada masa sahabat atau pada abad pertama islam.
Ibnu khaladun mengatakan bahwa: “Pada permulaan Islam orang-orang yang ahli di dalam agama yang selalu mengembalikan persoalan kepada Al-Qur’an, tahu tentang nasikh dan mansukh, tahu tentang ayat-ayat yang mutasyabih dan muhkamah serta tahu tentang pemahaman-pemahaman yang mereka dapatkan dari Rasullulah saw. Disebut dengan al-qura mereka disebut al-qura karena mereka membaca Al-qur’an dan masih jarang pada masa itu orang yang dapat membaca Al-qur’an.
Fiqh menurut bahasa berarti pemahaman terhadap tujuan seseorang pembicara. Menurut istilah: fiqh ialah mengetahui hukum-hukum syara yang amaliah (mengenai perbuatan, perilaku) dengan dihasilkan oleh pikiran serta ijtihad (penelitian) dan memerlukan wawasan –wawasan serta renungan. Oleh sebab itu Allah tidak bisa disebut sebagai “faqih” (ahli dalam fiqh), karena bagi Nya tidak ada sesuatu yang tidak jelas.
C.     Ilmu ushul Fiqh
Kata ushul fiqh dapat dilihat dari dua aspek, yaitu ushul dan fiqh. Kata ushul jamak dari kata ashal, secara etimologi diartikan sebagai fondasi baik yang bersifa materi ataupun bukan. Adapun menurut istilah ashal memunyai beberapa arti sebagai berikut ini.
1.      Dalil, yakni landasan hukum seperti pernyataan para ulama ushul fiqh bahwa ashal dari wajibnya shalat lima waktu adalah firman Allah swt. Dan sunnah Rasu saw.
2.      Qaidah, yaitu dasar atau pondasi sesuai dengan sabda Nabi
Artinya: “Islam itu didirikan atas lima ushul”
3.      Rajih yaitu yang terkuat. Seperti dalam ungkapan ara ahli ushul fiqh.
ibnu subki mendefinisikan ushul fiqh sebagai impunan dalil-dalil secara global. Jumhur ulama mendefinisikan ushul fiqh sebagai, himpunankaidah norma yang berfungsi sebagai alat penggalian syara sari dalilnya. Ibnu Humam dari kalangan Ulama Hanafiyah mendefinisikan sebagai pengetahuan kaidah-kaidah yang dapat mencapa kemampuan dalam penggalian fiqh. Sementara, Abful Wahab Khalaf mendefiniikan ushul fiqh dengan ilmu pengetahuan entang kaidah-kaidah dan metode penggalian hukum syara mengenai perbuatan manusia (amaliyah) dari dalil-dalil yang terperinci.
D.    Hukum Islam
Hukum Islam dalam pengertian yang terakhir ini adalah hukum negara atau bagian dari hukum negara. Sebagi ilmu, maka ia mempunyai cabang cabang seperti ilmu hukum umum yang terdiri dari, hukum konstitusonal, hukum perdata,  hukum pidana, hukum ekonomi dan seterusnya.
Kata hukum islam tidak ditemukan sama sekali Al-qur’an dan literatur hukum islam, yang ada dalam Al-Qur’an adalah kata syari’ah fiqh,  hukum Allah dan seakar dengan kata itu, hukum islam merupakan terjemahan islamic law dari literatue Barat. Hasbi Ash-Shidiqy memberikan definsi hukum islam dengan koleksi daya upaya fuqaha dalam memnerapakan syariah islam sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pengertian hukum islam dalam definisi ini mendekati makana fiqh.
Hukum islam berarti seperangkat peraturan berdasakan wahyu Allah swt. Dan sunnah Rasul tentang tingkah laku manusia mukalaf yang diakui, serta diyakini berlaku dan mengikat untuk semua umat islam. Maka dapat dipahami, bahwa hukum islam menyangkut syariah dan fiqh. Hukum islam dalam pengertian ini adalah hukum negara atau bagian dari hukum negara, sehingga ia mempunyai cabang-cabang yang terdiri dari huku perdata dan hukum pidana.
E.     Qanun (Yurisprudensi Fiqh)
Pemahaman syariah yang telah diformulasikan dalam bentuk teks hukum, berupa kontitusi undang-undang dan peraturan-peraturan yang mengikat warga negaranya dapat disebut hukum islam. Ini mempunyai arti penting bagi umat islam. Jurispendensi dalam tradisi civil dan common law sama dengan legal science (ilmu hukum), sedangkan  indonesia yurisprudensi adalah putusan pengandilan yang sudah berkekuatan, tetapi berasal dari istilah Belanda yaitu jurispedensi yang berarti putusan-putusan hakim.
Banyak perkembangan baru yang terjadi di Idonesia setelah berlakunya UU peradilan agama. Pertama, produk perundangan-perundangan bank syariah yang menjadikan sistem perbankan di Islam sebagai salah satu opsi pemecahan masalah perbankan di Indonesia. Kedua, lahir UU penyelenggaran Ibadah Haji, UU pengelolaan zakat dan UU keistimewaan propinsi istimewa aceh. Ketiga, undang-undang ini sebenarnya juga merupakan opsi pemecahan terhadap masalah hukum di luar yang sudah diatur oleh UU berkaitan dengan hukum islam sebelum ini. UU peradilan Agama sendiri merupakan sebuah opsi bagi pencarian keadilan di wioayah huku Negara Republik Indonesia. Pertanyaan yang mendasar adalah, bagaimana hukum islaj menjadi opsi terbaik bagi seluruh bangsa Indonesia yang mencari keadilan.
BAB III
Relasi Ilmu Fiqh dan Filsafat
A.    Filsafat dan Agama
A.Kattsoff (1963) dalam Elements of philosophy menjelaskan pengertian filsafat sebagai berikut.
·         Filsafat adalah berfikir secara kritis
·         Filsafat adalah berfikir dalam bentuk sistematis
·         Filsafat harus menghasikan sesuaty yang runtut
·         Filsafat adalah berfikir secara rasional
·         Filsafat harus bersifat kompeherensif
Kemudian Windelband, seperti dikutip Hatta, dalam pendahuluan Alam Pikiran Yunani, menyatakan bahwa Filsafat sifatnya meretang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang suatu keaadaan atau hal yang nyata.filsafat adalah kebenaran, demikian pula ilmu agama mengajarkan kebenaran. Kebenaran dalam filsafat dan ilmu adalah kebnaran akal, sedangkan kebenaran menurut agama adalah kebenaran wahyu. Ilmu adalah pengetahuan, maka orang yang banyak pengetahuannya dikatakan sebagai ilmuwan atau ilmiawan, ulama ahli pengetahuan dan lain sebagainya. Pada dasarnya pengetahuan memilki tiga kriteria. Pertama, adanya suatu sistem gagasan dalam pikiran, kedua, penyesuain antara gagasan dengan benda-benda yang sebenarnya, dan ketiga adanya keyakinan tentang penyesuain itu.
Filsafat mempunyai hubungan bik dengan fiqh, dalam bentuk aktivitas, sebagai berikut.
a.       Filsafat dan ilmu dapat membantu menyampaikan lebih lanjut ajaran syariah dan fiqh kepada manusia
b.      Filsafat membantu fiqh dalam mengartikan (mengiterprestasikan) teks-teks suci
c.       Filsafat membantu dalam memastikn arti objektif tulisan wahyu
d.      Filsafat menyediakan metode-metode pemikiran hukum
e.       Filsafat membantu agama dalam menghadapi masalah-masalah kontemporer
f.       Filsafat (kajian teori nilai) etika dapat merumuskan permasalahan etis sedemikian rupa, sehingga agama dapat menjawabnya berdasarkan prinsip-prinsip moralitas.
Agama dapat membantu memberi jawaban terhadap problem yang tidak dapat dijangkau dan di jawab oleh ilmu dan filsafat. Meskipun demikian, tidak juga berarti bahwa agama adalah di luar rasio, agam adalah tidak rasional. Agama bahkan mendorong manusia memiliki hidup rasional, bagaiman manusia menjadi manusia yang senatiasa bergerak, dinamis,tak cepat puas dengan perolehan ada ditangannya, untuk lebih mengerti kebenaran, untuk lebih mencintai kebaikan dan lebih berusaha, agar cinta kepada Allah kepadanya dapat menjadi dasar cintanya kepada manusia sehingga manusia bersama-sama yang lain mampu membangun dunia.
B.     Filsafat Hukum dan Ilmu Hukum
Filsafat hukum merupakan prinsip yang fundamental atau mendasar tentang hukum, kerja filsafat merupakan usaha-usaha untuk menguji prinsip-prinsip dasar dalam ilmu hukum. Prinsip-prinsip tersebut dapat berperan sebagai prinsip pertama, yang merupakan titik tolak untuk melakukan perbuatan (deduksi) dan prinsip yang terwujud dalam menerapkan hipotesis (induktif). Cara kerja keilmuan dapat dirumuskan sebagai logika hipotiko verivikatif. Peran dari filsafat hukum ialah berada dalam taha hipotesis yang masih memerlukan pembuktian.
Ilmu hukum dapat berperan dalam merefleksikan filsafat hukum, hasil-hasil penelitiannya adalah bahan bagi filsafat hukum. Filsafat hukum mengintegrasikan hasil penelitian, ilmu hukum mengaitkanny dengan keseluruhan yang ada, dan memnempatkannya dalam pemahaman manusia secara inten, selanjutnya mengimplementasikan pada kebutuhan manusia paling dasar akan suatu keadilan. Filsafat hukum memeriksa hasil-hasil ilmu hukum secara radikal dan kritis , filsafat hukum mengitroduksikan masalah yang tak terjangkau dan terkaji oleh ilmu hukum, karena tidak memenuhi kaidah ilmu yaitu empiris rasional dari hukum. Filsafat hukum menempatkan hasil-hasil ilmu hukum secara konsisten, kompeherensif koheren dan intropeksif.
C.     Kedudukan Ilmu Hukum dalam Filsafat Ilmu
Haroled J.Berman mengatakan bahwa ilmu hukum adalah ilmu modern pertama yang lahir di dunia barat berdasarkan penelusuran historis. Ilmu hukum bertujuan mencari kebenaran atau keadilan yang benar. Kebenaran didefinisikan sebagai penyesuaian antara pengetahuan dan objektnya demikian menurut Poejawiatna, karenanya kebenaran sering disebut kesesuain anatara pikiran dan kenyataan. C. Verhaak mengatakan, bahwa kebenaran adalah penyamaan akal dengan kenyataan yang terjadi padataraf indrawi, akal budi tanpa pernah sampai pada kesamaan sempurna yang dituju kebenaran dalam pengalaman manusia.
Ktika filsafat hukum merupakan cabang ilmu filsafat, maka fungsi filsafat hukum menawarkan refleksi filosofis mengenai landasan hukum. Refleksi itu bisa berasal dari pendapat filosofis yang ada ataupun yang lainnya. Maka, kajian hukum bisa bertumpu pada pemikiran filosof, atau dari kasus yang ada kajian dalam kajian filsafat.
BAB IV
Sejarah Perkembangan Ilmu Fiqh
Muhammad khudari Bek (ahli fiqh dari Mesir) membagi periodisasi fiqh menjadi enam periode, periode tersebut sebenarnya bisa dibagi dalam dua periode karena dalam setiap periodenya terdapat ciri tersendiri. Periodisasinya adalah sebagai berikut:
A.    Periode Risalah
Periode ini dimulai sejak masa kerasulan Muhammad saw, sampai wafatnya Nabi saw. Terdapat dua periode pada masa ini:
-          Periode Mekah
-          Periode Madinah
B.     Periode Khulafaur Rasyidin
Sumber fiqh diambil dari Al-Qur’an dan sunnag ditandai dengan munculnya berbagai ijtihad para sahabat
C.     Periode awal pertumbuhan Fiqh
Pertumbuhan fiqh dimulai pada pertengahan abad ke-1 sampai awal abad ke-2 H.
D.    Periode keemasan
Periode ini dimulai pada awal abad ke -2 H sampai pertengahan abd ke-4 H
E.     Periode Tahrir, tarjih dan takhrij dalam madzhab Fiqh
Periode ini dimulai pada awal abad ke -4 sampai pertengahan awla abad ke -7 H. Mustafa Ahmad Az-zarqa mengatakan, bahwa dalam periode ini untuk pertama kali muncul peryataan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.
F.      Periode Kemunduran Fiqh
Dimulai dari abad ke -7 H sampai munculnya majalah Al-ahkam al-‘adiyyah (hukum perdata kerajaan Turki Usmani). Pada periode ini pembukuan terhadap berbagai fatwa, banyak bermunculan buku yang memuat fatwa ulama berstatus sebagai pemberi fatwa resmi (mufti) dalam berbagai madzhab.
G.    Periode pengkondisifikasian Fiqh
Mustafa Ahmad az-Zarqa mengemukakan bahwa ada tiga ciri yang mewarnai erkembangan fiqh pada periode ini
1.      Upaya pengkodisifikasian fiqh sesuai dengan tuntutan situasi dan zaman
2.      Upaya pengkondisifikasian berbagai hukum yang tidak terikat sama sekali dengan madzhab fiqh tertentu
3.      Ulama mempunyai kecenderungan kuat untuk melihat berbagai pendapat dari berbagai madzhab fiqh sebagi salah satu kesatuan yang tidak dipisahkan.
BAB V
Asas dan Prinsip Hukum Islam
A.    Syariah Islam
Islam adalah agam adan cara hidup berdasarkan syariah Allah yang terkandung dalam kitab al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Setiap orang yang mengintegrasikan dirinya kepda islam, wajib membentuk seluruh hidup dan kehidupannya berdasarkan syari’ah yang termaksud dalam Al-Qur’an dan sunah.
Eksistensi syariah islam yang konsisten pada prinsip dan asasnya tidaklah harus statis, tetapi justru harus fleksibel, dapat mereduksi perkembangan dan kemajuan kehidupan manusia, hal tersebut merupakan kegiatan reaktualitasasi islam secara garis besar menekankan pada pengejawantahan islam dengan mereinterpretasi sumber hukum islam dengan menggunakan kebutuhan, situasi, dan kondisi dewasa ini, pradigmanya.
Bedasarkan fenomena tersebut, penulis memandang bahwa pemahaman akan prinsip-prinsip dan asas-asas hukum islam secara radikal melalui kacamata filsafat memiliki urgensi yang tinggi sekali sebagai upaya untuk membentengi syariah islam kontemporer.
B.     Pinsip-prinsip Hukum islam
Syariah islam adalah pedoman hidup yang ditetapkan Allah swt untuk mengatur kehidupan manusia agar sesuai dengan keinginan Al-Qur’an dan sunnah. Hukum islam ialah seperangkat aturn yang ditetapkan secara langsung  dan lugas oleh Allah ditetpkan pokok-pokoknya untuk mengatur hubungan antara manusia dan tuhannya, manusia. Dengan sesamanya, serta manusia dengan alam semesta.
Adapun secara terminologi, prinsip adalah kebenaran universal yang inheren di dalam hukum islam dan menjadi titik tolak pembinaanya, prinsip yang membentuk hukum dan setiap cabang-cabangnya.; prinsip hukum islam, meliputi prinsip umum dan prinsip khusus. Prinsip umum ialah keseluruhan hukum ilam yang bersifat univesal. Adapun prinsip-prinsip khusus ialah prinsip yang setap cabangnya hukum islam. Prinsip-prinsip hukum islam menurut Juhaya S. Praja sebagai berikut:
1.      Prinsip tauhid
Prinsip ini menyatakan bahwa semua manusia ada di bawah satu ketetapan yang sama, yaitu ketetapan tauhid yang dinyatakan dalam kalimat lailaha illallah (tidak ada tuhan selain Allah). Pelaksanaan hukum islam ibadah dan penyerahan diri manusia kepada keseluruhan kehendak-Nya.
Dari prinsip tauhid umum ini melahirkan pauhid ini, prinsip khusus yang merupakan kelanjutan dari prinsip tauhid ini, umpmanya yang berlaku dalam fiqh ibadah sebagai berikut:
a.       Prinsip pertama : berhubungan langsung dengan Allah tanpa perantara artinya bahwa tak seorang pun manusia dapat menjadikan dirinya sebagai zat yang wajib di sembah.
b.      Prinsip kedua : beban hukum (taklif) ditunjukan untuk memelihara akidah dan iman, pembentukan pribadi yang luhur, hamba Allah dibebani ibadah sebagai bentuk/;aktualisai dari rasa syukur atas nikmat Allah.
2.      Prinsip keadilan
Kaadilan dalam bahasa salaf adlah sinonim al-mizan (keseimbangan/moderasi). Kata keadilan dalam al-Qur’an kadang diekuifalensikan dengan al-Qist. Al-mizan yang berarti keadilan di dalam al-Qur’an terdapat dam QS.Al-syura : 17 dan al-Hadid ayat 25.
Bedasarkan prinsip keadilan ini, lahir kaidah yang menyatakan hukum islam dalam praktiknya dapat berbuat sesuai dengan ruang dan waktu, yakni suatu kaidah yang menyatakan elastisitas hukum islam dan kemudahan dalam melaksanakannya sebagai kelanjutan dari prinsip keadilan,. Artinya, perkara-perkara dalam hukum Islam apabila telah menyempit maka menjadi luas, apabila perkara-perkara itu telah meluas maka kembali menyempit.
3.      Prinsip Amar Makruf Nahi Mungkar
Hukum islam digarekan untuk merekayasa umat manusia menuju kepada yang baik dan benar yang dikehemdaki dan ridhai Allah. Hal ini dalam filsafat hukum Barat diartikan sebagai fungsi social engineering hukum. Prinsip amar makruf nahi mungkar didasarkan pada QS. Al-imran ayat 110 pengkategorian amar makruf nahi mungkar dinyatakan berdasarkan wahyu dan akal.
4.      Prinsip kebebasan/kemerdekaan
Prinsip kebebasab dalam hukum islam disiarkan tidak berdasarkan paksaan, tetapi berdasarkan penjelasan, demostrasi, argumentasi. Kebebasan yang menjadi prinsip hukum islam adalah kebebasan dalam arti luas, yang mencangkup berbagai macamnya baik kebebasab komunal.
5.      Prsinsip persamaan/egilate
Prinsip persamaan yang paling nyata terdapat dalam konstitusi Madinah (al-Shahifah), yakni prinsip Islam menentang perbudakan dan penghisapan darah atas manusia.
6.      Prinsip at-ta’awun
Prinsip ini memiliki makna saling membantu antar sesama manusia yang diarakan sesuai prinsip tauhid, terutama dalam peningkata kebaikan dan ketakwaan.
7.      Prinsip toleransi
Prinsip toleransi yang dikehendaki Islam adalah toleransi yang menjamin tidak terlanggarnya hak-hak islam dan umatnya- tegasnya toleransi hanya dapat diterima apabila tidak merugikan agama islam.
C.     Asas-asas hukum islam
Asas, secara etimologi memiliki dasar, alas, atau fundamen. Adapun secara terminologinya, Hasbi Ash-shidiqie mengungkapkan bahwa hukumislam sebagai hukuk yang lain mempunyai asas dan tiang pokok, sebagai berikut:
1.      Asas nafyul haraji
Asas ini berarti meniadakan kepicikan. Artinya, hukum islam dibuat dan diciptakan . itu berada dalam batas-batas kemampuan para mukalaf.
2.      Asas qilatul taklif
Berarti tidak membahayakan taklifi, artinya hukum islam itu tidak memberatkan pundak para mukallaf dan tidak menyuarakan.
3.      Asas tadarruj
Asas tadaruj berarti bertahap (gradual), artinya pembinaan hukum islam berjalan setahap demi setahap disesuaikan dengan tahapan perkembangan manusia.
4.      Asas kemashlahatan manusia
Hukum islam berkembang seiring dengan kehidupan manusia mereduksi sesuatu yang ada dilingkungannya.
5.      Asas keadilan merata
Asas hukum ini artinya hukum islam sama dengan keadaannya, tidak lebih melebihi bagi satu terhadap yang lainnya.
6.      Asas estetika
Asas hukum ini artinya hukum islam memperbolehkan bagi kita untuk mempergunakan atu memperhatikan segala sesuatu yang indah.
7.      Asas menetapkan hukum berdasar ‘urf
Hukum islam dalam penetapnya memperhatikan adat/kebiasaan.
8.      Asas syara menjadi dzatiyah islam
Asas hukum ini artinya hukum yang diturunkan secara mujmal memberikan lapangan yang luas kepada para filusuf untuk berijtihad.
BAB VI
Pembidangan Ilmu Fiqh
Pembidangan ilmu fiqh pada dasarnya terbagi menjadi dua bagian yaitu bidang ibadah dan muamalah. Para ulama masa dahulu telah mencoba mengadakan pembidangan ilmu fiqh ini ada yang membaginya menjadi tiga bidang, yaitu bidang muamalah (perdata islam) dan uqubah (pidana islam), ada pula yan membaginya menjadi empat bidang yaitu, ibadah, muamalah, uqubah, munakahat. Walaupun demikian pembidangan ilmu fiqh menjadi dua bagian besar, yaitu: pertama, bidang ibadah mahdah, yaitu aktivitas badag yang mengatur hubungan manusia dengan Allah swt. Kedua, bidang fiqh muamalah dalam arti luas.
A.    Bidang Ibadah
Ibadah menurut terminologi adalah setiap aktivits muslim yang dilakukan ikhlas hanya mengharapkan Allah swt. Penuh rasa cinta dan sesuai dengan aturan dan Rasulnya.
Contoh macam ibadah :
a.       Syahadataen
b.      Thaharah
c.       Shalat
d.      Zakat
e.       Shaum
f.       Haji
Ibadah yang dilakukan secara kondisional
a.       I’tikaf: berdiam diri di mesjid untuk berdzikir kepada Allah swt
b.      Jihad: berjuang dalam menegakan ajaran Allah
c.       Sumpah: penyataan kesaksian dalam kebenaran
d.      Nazar: berjanji akan melakukan aktifitas jika berprestasi
e.       Qurban: penyembelihan pada bulan Dzulhijjah
f.       Aqaiqah: penyembelihan hewan ternak pada saat anak lahir
g.      Asribah: minuman yang halal
h.      Atimah: makanan yang halal
i.        Wakaf: infak manfaat dari barang tak bergerak
Tujuan ibadah
1.      Ikhlas, semata-mata karena Allah
2.      Mahabbah dan ta’at
3.      Istiqomah
4.      Iqtishad
Hikmah ibadah
1.      Taqwa
2.      Terhindar dari perbuatan keji dan munkar
3.      Diri dan harta menjadi suci
4.      Dir, fisik, dan psikis menjadi sehat
5.      Dimudahkan rezeki
6.      Meraih surga Allah dan menjauhkan dari siksa api neraka
Bidang Muamalahh
1.      Bidang Ahwal asyksiyah
-          Bidang munakahat
-          Bidang mawarits dan wasiat
-          Hadhanah
2.      Bidang muamalah dalam arti luas
-          Jual beli\
-          Pesanan
-          Kepailitan
-          Hajru
-          Al-shulu
-          Hiwalah
-          Suf’ah
-          Muzaro’ah dan musaqoh
-          Al-ji’alah
-          Ihya al- mawat
-          Luqatah
-          Ad-dhaman al kafalah
-          Syarikah
-          Wakalah
-          Al-wadi’ah
-          Al-‘ariyah
-          Al-gahab
-          Qiradh
-          Al-Ijarah
BAB VII
Tujuan dan Metode Ilmu Fiqh
a.       Tujuan hukum
Hukum islam mempunyai tujuannya hakiki yaitu tolak ukur bagi manusia dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup. Tujuan hukum islam dilihat dari pembuat hukum ada tiga, terutama hukum taklifi, yaitu hukum yang berupa keharusan, sebagai berikut:
-          Melakukan suatu perbuatan atau tdak melakukannya
-          Memilih antara mlakukan perbuatan atu tdak melakukan nya
-          Hukum melakukan atau tidak melakukan karena ada atau tdak adanya sesuatu yang mengharuskan keberadaan hukum tersebut.

b.      Maqasid al-syari’ah
Alkuliyyatul khams (lima pokok pilar) atau disebut dengan maqashid al-syariah (tujuan-tujuan universal syariah). Lima pokok pilar itu adalah:
1.      Hifz al-dien, menjamin kebebasan beragama
2.      Hifz al-nafs, memelihara kelangsungan hidup
3.      Hifz al-‘aql, menjamin kreatifitas berfikir
4.      Hifz al-nasl, menjamin keturunan dan kehormatan
5.      Hifz al-mal, pemilikan harta, property, dan kekayaan.

c.       Tujuan ilmu Ushul Fiqh
Tujuan ilmu ushul fiqh adalah menerapkan kaidah-kaidah, teori, dan pembahasan dalil-dalil secara rinci dalam rangka menghasilkan hukum syariat islam yang diambil dari dalil-dalil tersebut.
d.      Metedologi Ilmu fiqh
Uamt islam kiranya sudah mafhum benar tentang fiqh. Hampir seluruh urusan agama diatur oleh lembar demi lembar aturan, yang ditetapkan oleh ulama-ulama, dan terangkum dalam hukum-hukum fiqh. Mulai dari cara shalat, puasa, bribadah haji, berdagang, menghukum pelaku kriminal, bahkan taqta tertib ke toilet, ada hukum fiqhnya.
BAB VIII
A.    Pengertian sumber hukum islam
Kata sumber hukum islam merupakan terjemahan dari lafadz mashadir al-ahkam, kata-kata tersebut tidak ditemukan dalam kitab-kitab hukum islam yang dituis oleh ulama-ulama fiqh dan ushul fiqh klasik.
B.     Sistematika sumber Hukum islam
1.      Al-Qur’an
Al-qur’an adalah sumber fiqh yang ertama dan paling utama, al-qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang sampai kepada kita secara mutawatir, apabila dibaca mengandung nilai ibadah, dimulai dengan surat Al-fatihah dan diakhiri dengan surat Annaas. Hukum-hukn yang terdaat pada Al-qur’an
a.       Hukum iiqadiyah, yaitu hukum yang berhubungan dengan keimann kepada Allah swt. Malaikat,kitab Allah, kepada Rasul, dan kepada hari akhir
b.      Hukum khuluqiyah, yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan akhlak manusia wajib berakhlak yang baik dan menjauh akhlak yang buruk
c.       Hukum amaliyah, yaitu hukum yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia.

2.      Al-Hadits
Hadis nabi yang berupa ucapan, perbuatan, dan kepribadian adaah pegangan hidup dan kehiduan bagi umat islam, yang berkedudukan setelah Al-Qur’an. Seb hadis selain memilki fungsi sebagai peletak hukum, dia juga berfungsi sebagai penjelas al-Qur’an, baik berupa penjelas yang global, pengkhusus yang umum atau pembatas yang mutlak.
3.      Ijtihad
a.       Pengertian ijtihad
Ijtihad adalah aktifitas yang dilakukan oleh sesorang fakih untuk memperoleh hukum tingkat zani, kata faqih berasal dari faqaha berarti orang yang berbakat fiqh.
Lapangan ijtihad dapat memaikan perananya adalah:
1.      Masalah-masalah baru yang hukumnya belum ditegaskan oleh nash al-qur’an atau sunnah secara jelas
2.      Masalah-masalah baru, yang hukumnya belum diijma’i oleh ulama atau aimamamtul’l mujtahidin
3.      Nash-nash dzhany dan dalil-dalil hukum yang diperselisihkan
4.      Hukum islam yang ma’qulu ‘lma’na/ta’aaquly (kausalitas hukum nya /ilatnya dapat diketahui mujtahid)
b.      Metode mujtahid
1)      Ijma
Ijma’ adalah kesepakatan seluruh mujtahid dari kaum muslimin pada suatu masa setelah wafatnya Rasulullah saw. Beberpa pengertian ijma :
a.       Terdapat beberapa orang mujtahid karena kesepakatan baru, bisa terjadi apabila ada beberapa mujtahid
b.      Kebulatan pendapat harus tampak nyata, baik dengan perbuatan, perkataan, maupun fatwa
c.       Kebulatan pendapat orang-orang yang buka mujtahid, tidak disebut ijma
2)      Qiyas (kontruksi masalik al-illat)
Qiyas merupakan dalil yang paling subur dalam memecahkan masalah-masalah baru yang belum ditegaskan di nash, atau oleh pembahasaan mujtahid terdahulu.
3)      Istihshan
Istihsan yaitu, perpindahan dari satu hukum yang telah ditetapkan oleh dalil syara kepada hukum lan, karena ada dalil syara yang mengharuskan perpindahan ini sesuai dengan jiwa syariah islam. Perpindahan dari dalil kulli kepada dalil juz’i dari umum kepad yang khusus, dari qiyas dzahir kepada qiyas khafi.
4)      Al-mashlaha al-mursalah
Imam malik menyatakan bahwa “ rasio harus diperhatikan guna pertimbangan kemashlahatan al-marshalih al-mursalah. Diskusi tentang ratio logis telah mencatat bahwa kepentingan umum berperan dalam menentukan kesesuain (munasabah), sebuah metode yang fundamental dalam membangun dan memferisifikasikan rasio.
5)      Al-uruf
‘Uruf adalah sikap perbuatan dan perkataan yang biasa dilakukan oleh kebanyakan manusia atau oleh manusia seluruhnya. Perbedaan uruf dengan ijma yaitu pada:
aa. uruf terjadi karena ada persesuaian dalam perbuatan ataupun perkataan diantara umumnya manusia, baik pada orang biasa, orang cerdik, atau para mujtahid, sedangkan dalam ijma, keepakatan hanya terjadi dikalangan mujtahid saja
6)      Istihshab
Istihshab ialah tetapnya suatu hukum selama tidak ada yang merubahnya. Jadi, hukum yang telah ditetapkan pada masa lampu, terus berlaku pada masa sekarang sampai ada dalil lain yang merubahnya hukum tersebut, atau sebaliknya, apa yang tidak ditetapkan.
7)      Syar’u man qablana
Sya’u man qablana adalah syariat yang telah terjadi pada masa sebelum Nabi Muhammad saw, kemudia syariat itu masih dipergunakan.
8)      Mazhab Shahabi
Mazhab Shahabi adalah pendapat sahabat tetapi keberadaannya diperdebatkan.
9)      Sadudzari’ah
Sadduzari’ah artinya menutup jalam yang menyampaikan kepada perbuatan haram dan kemaksiatan.
BAB IX
Hukum Syara’
Al- ahkam, Hakim, Mahkum bih, Mahkum ‘Alaih
A.hukum                           
1. Pengertian Hukum
Mayoritas ulama ushul mendifinikan hukum sebagai berikut:
Artinya:
“kalam Allah yang menyangkut perbuatan orang dewasa dan berakal sehat, baik bersifat imperatif, fakultatif atau menempatkan sesuatu sebagai sebab, syarat, dan penghalang.”
Yang dimaksud khitab Allah dalam definisi tersebut adalah semua bentuk dalil, baik Al-Qur’an, As-sunnah maupun lainnya, seperti ijma’ dan qiyas. Namun, para ulama ushul kontemporer,seperti Ali Hasaballah dan Abd. Wahab Khalaf berpendapat bahwa yang dimaksud dalil disini hanya Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun ijma’ dan qiyas hanya sebagai metode menyingkapkan hukum  dari Al-Qur’an dan Sunnah tersebut. Dengan demikian, sesuatu yang disandarkan pada kedua dalil tersebut tidak semestinya disebut sebagai sumber hukum.
Yang dimaksud dengan yang mencangkup perbuatan mukallaf adalah perbuatan yang dilakukan oleh manusia dewasa yang berakal sehat meliputi perbuatan hati, seperti niat dan perbuatan ucapan, seperti ghibah (menggujing)  dan namimah (mengadu domba).
2. Pembagian Hukum
Bertitik tolak pada definisi hukum di atas, maka hukum menurut ulama ushul terbagi dalam dua bagian, yaitu hukum taklifi dan hukum wadh’i.
2.1 Hukum taklifi
2.1.1 Pengertian Hukum Taklifi
Hukum taklifi adalah firman Allah yang menuntut manusia untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu atau memilih antara berbuat dan meninggalkan.
1.      Contoh firman Allah SWT. Yang bersifat menuntut untuk melakukan perbuatan:
Artinya:
“Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan taatilah Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS.An-Nur : 56)
Bentuk- bentuk Hukum taklifi
Terdapat dua golongan ulama dalam menjelaskan bentuk-bentuk hukum taklifi: pertama, bentuk-bentuk hukum taklif menurut jumhur ulama Ushul fiqh/Mutakallimin. Menurut mereka bentuk-bentuk hukum tersebut ada lima macam, yaitu ijab, nadb, ibahah, karahah, dan tahrim. Kedua, bentuk-bentuk hukum taklifi , seperti iftirad, ijab, nadb, ibahah, karahah tanzhiliyah, karahah tahrimiyyah, dan tahrim.
Bentuk pertama

Ijab (wajib)
Ijab (wajib) adalah firman yang menuntut melakukan sesuatu perbuatan dengan tuntutan pasti. Misalnya, firman Allah dalam surat Al-Baqoroh (2) ayat 43:
Artinya: ”Dan dirikanlah salat, tunaikan zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (Q.S Al-Baqoroh (2):43)
Nadb (sunah)
Nadb (sunah) adalah firman Allah yang menuntut melakukan suatu perbuatan dengan perbuatan yang tidak pasti, tetapi hanya berupa anjuran untuk berbuat. Misalnya, firman  Allah surat Al-Baqoroh ayat 282:
Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (Q.S Al-Baqoroh (2):282)
Tahrim (haram)
Tahrim (haram) adalah firman Allah yang menuntut untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan dengan tuntutan pasti. Misalnya, firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 3:
Artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai,darah,dan daging babi.” (Q.S Al-Maidah (5):3)
Karahah (makruh)
Karahah (makruh) adalah firman Allah yang menuntut untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak pasti, tetapi hanya beruuk tidak berupa anjuran untuk tidak berbuat. Misalnya, firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 101:

Artinya: “janganlah kamu menanyakan (kepada nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu niscaya menyusahkanmu...” (Q.S Al-Maidah (5): 101)
Ibahah (mubah)
Ibahah (mubah) firman Allah yang memberi kebebasan kepada mukallaf untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan. Misalnya, firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 235:
Artinya: “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran...” (Q.S Al-Baqoroh (2): 235)
Kedua, bentuk-bentuk huukum taklifi menurut ulama hanafiyyah:
Iftiradh
Yaitu tuntutan Allah kepada mukallaf yang bersifat memaksa dengan bedasarkan dalil yang qath’i. Misalnya, tuntutan untuk melaksanakan shalat dan membayar zakat. Ayat dan hadits yang mengandung tuntutan untuk mendirikan shalat dan membayar zakat sifatnya adalah qath’i.
Ijab
Yaitu tuntutan Allah yang bersifat memaksa kepada mukallaf untuk melaksanakan suatu perbuatan, tetapi melalui dalil yang bersifat zhanni (relatif  benar). Misalnya kewajiban membayar zakat fitrah,  membaca al-fatihah dalam shalat dan ibadah kurban. Perbuatan-perbuatan seperti ini menurut ulama hanafiyyah, tututannya bersifat ijab dan wajib dilaksanakan, tetapi kewajibannya didasarkan atas tuntutan yang zhanni.
Nadb
Maksudnya sama dengan nadb yang dikemukakan jumhur ulama Ushul Fiqh/Mutakallimin.
Ibahah
Juga sama dengan yang dikemukakan jumhur ulama Ushul Fiqh/Mutakallimin.
Karahah tanzhiliyyah
Yaitu tuntutan Allah kepada mukallaf untuk meninggalkan suatu pekerjaan, tetapi tuntutannya tidak bersifat memaksa. Misalnya larangan berpuasa pada hari jum’at. Karahah tanzhiliyyah di kalangan hanafiyyah , sama pengertiannya dengan karahah yang dikemukakan jumhur ushul fiqh/Mutakallimin.
Karahah tahrimiyyah
Yaitu tuntutan Allah kepada mukallaf untuk meninggalkan suatu perbuatan dengan cara memaksa, tetapi didasarkan pada dalil yang zhanni. Apabila pekerjaan yang ditutunt untuk ditinggalkan, maka ia dikenakan hukuman. Hukum ini sama saja dengan haram yang dikemukakan jumhur ulama ushul fiqh/mutakallimin.
Tahrim
Yaitu tuntutan Allah kepada mukallaf untuk meninggalkan suatu perbuatan dengan cara memaksa dan didasarkan pada dalil yang qath’i. Misalnya, larangan membunuh orang (Q.S Al-Isra: 23 di atas) dan berbuat zina (Q.S Al-Nur: 2).
Hukum-hukum fuqaha
Seperti telah diterangkan di atas, bahwa hukum-hukum menurut fuqaha adalah tampak dari tuntutan khitab tasyri’, seperti wajib, haram,  makruh, sunah, dan mandub.
a.       Wajib
Pada pokonya yang disebut dengan wajib adalah segala perbuatan yang diberi pahala jika mengerjakannya dan diberi siksa (‘iqab) apabila meninggalkannya. Misalnya, mengerjakan beberapa rukun islam yang lima.
Dilihat dari beberapa segi, wajib terbagi empat:
1.      Dilihat dari segi tertentu atau tidak tertentunya perbuatan yang dituntut, wajib dapat dibagi menjadi dua:
-          Wajib muayyan (ditentukan), yaitu yang telah ditentukan macam perbuatannya, misalnya membaca surat Al-Fatihah, atau tahiyat dalam salat.
-          Wajib mukhayyar (dipilih), yaitu yang boleh dipilih dari beberapa macam perbuatan yang telah ditentukan. Misalnya, kifarat sumpah yang memilih tia alternatif, memberi makan sepuluh orang miskin, atau memberikan pakaian sepuluh orang miskin atau memerdekakan budak.
2.      Dilihat dari segi siapa saja yang mengharuskan memperbuatnya, wajib terbagi kepada dua bagian:
-          Wajib ‘ain, yaitu wajib yang dibebankan atas pundak setiap mukallaf. Misalnya, mengerjakan salat lima waktu, puasa ramadan, dan lain sebagainya.wajib ini disebut juga fardu ‘ain.
-          Wajib kifayah, yaitu kewajiban yang harus dilakukan oleh salah seorang anggota masyarakat, tanpa melihat siapa yang meara mengerjakannya. Apabila telah ditunaikan salah seorang diantara mereka, hilanglah tuntutan terhadap yang lainnya. Namun, jika tidak ada seorang pun yang melakukannya, maka berdosalah semua anggota masyarakat tersebut. Misalnya, mendirikan tempat peribadatan, medirikan rumah sakit, sekolah, menyelenggaran salat jenazah, dan lain sebagainya.
3.      Dilihat dari segi kadar (kuantitatas) nya, wajib itu terbagi kepada dua:
-          Wajib muhaddad, yaitu kewajiban yang ditentukan kadar atau jumlahnya. Misalnya, jumlah zakatyang mesti dikeluarkan, jumlah rakaat salat, dan lain-lain.
-          Wajib ghairu muhaddad, yaitu kewajiban yang tidak ditentukan batas bilangannya. Misalnya, membelanjakan harta di jalan Allah, berjihad, tolong-menolong, dan lain sebagainya.
b.      Haram
Haram adalah segala perbuatan yang dilarang mengerjakannya. Orang yang melakukannya akan disiksa, berdosa (‘iqab) dan yang meninggalkannya diberi pahala. Misalnya, mencuri, membunuh, tidak menafkahi orang yang menjadi tanggungan, dan lain sebagainnya. Perbuatuatan itu ini disebut juga maksiat, qabih.
Secara gari besarnya haram dibagi kepada dua:
1.      Haram karena perbuatan itu sendiri, atau haram karena zatnya. Haram seperti ini pada pokoknya adalah haram yang diharapkan sejak semula. Misalnya, membunuh, berzina, mencuri, dan lain- lain.
2.      Haram karenaa berkaitan dengan perbuatan lain, atau haram karena faktor lain yang datang kemudian. Misalnya, jual beli yang asalnya hukumnya mubah, berubah menjadi haram ketika adzan jumat berkumandang. Begitu juga dengan puasa ramadan yang semula wajib, berubah menjadi haram karena dengan berpuasa itu akan menimbulkan sakit yang mengancam keselamatan jiwa. Begitu juga, dengan lainnya.
c.       Mandub
Mandub dibagi menjadi tiga bagian
a.       Sunah al mu’akadah (sunah yang sangat dianjurkan)
b.      Sunnah ghairu al-mu’akaddah (sunnah biasa) yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala, apabila ditinggkalkan tidak berdosa, dn tidak pula mendapat celan syar’i seperti bersedekah, salat sunat dan puasa hari senin kamis.
c.       Sunnah al-zaidah (sunnah yang besifat tambahan) yaitu suatu pekerjaan untuk mengikuti apa yanh dilakukan rasul.

d.      Pembagian Haram
Haram dibagi menjadi dua bagian,
a.       Haram lidzatihi, yaitu kehraman langsung dan sejak semula ditentukan keharamannya oleh syar’i. Misalnya, bangkai, babi, berjudi, meminum minuman keras, berzina, membunuh, dan memakan harta anak yatim.
b.      Haram li ghairih, yaitu sesuatu yang pada mulanya disyariatkan, tetapi diberangi oleh sesuatu yang bersifat mudarat bagi manusia, maka keharamannya adalah disebabkan adanya mudarat tersebut.

e.       Pembagian mubah
Mubah dibagi menjadi,
a.       Mubah bi al-juz’i bi al-kulli ‘ala jihat ar-rujuh
b.      Mubah bi al-juz’i li al-mathlub al-kulli ‘allajihat al-mandub
c.       Mubah bial- juz ‘i al-muharmmah bi al-kulli
d.      Mubah bi al-juz’i al-makruh bi al-kulli
Hukum Wadh’i
Hukum wadh’i adalah firman Allah swt. Yang menuntut untuk menjadikan sesuatu sebagi sebab, syarat, atau penghalang, dari sesuatu yang lain.
Macam-macam wadh’i yaitu,
-          Sebab
Sebab, menurut bahasa adlah sesuatu yang dapat menyampaikan kepada sesuatu lain, berarti jalan yang dapat ditempuh untuk menyampaikan suatu tujuan.
-          Syarat
Syarat itu sesuatu yang berada diluar hukuk syara’ tetai keberadaan hukum syara’ bergantung kepadanya.
-          Mani’ (penghalang)
Mani’ itu bersifat yang keberadaannya menyebabkan tidak ada huku atau tidak ada sebab. Misalnya hubungan suami istri dan hubungan kekerabatan yang menyebabkan timbulnya hubungan kewarisan (waris-mewarisi).
-          Shihah
Suatu hukum yang sesuai dengan tuntutan syara’nya yaitu terpenuhinya sebab sayart, dan tidak ada mani’.
-          Bathil
Bathil yaitu terlepasnya hukum syara’ dari ketentuan yang ditetapkan dan tidak ada akibatnya hukuk yang ditimbulkannya. Mislanya, memperjualbelikan minuman keras.
-          Azimah dan Rukhshah
Azimah adalah hukum-hukum yang disyariahkan Allah kepada seluruh hambanya sejak semula. Imam al-Badawi (ahli ushul fiqh syafi’iyah), mengatakan bahwa ‘azimah itu adalah hukum yang ditetapkan tidak berbeda dengan dalil yang ditetapkan karena ada udzur.
c.       Perbedaan hukum taklif dengan hukum wadh’i
Hukum al-taklifi terkandung tuntutan untuk melaksanakan, meninggalkan, atauu memilih berbuat atau tidak berbuat. Dalam hukum al-wadh’i hl ini mengandung keterkaitan  antara dua persoalan, sehingga salah satu diantara keduanya bisa dijadikan sebab, penghalang, atau syarat. Dan lain sebagainya.
BAB X
Kaidah Fiqhiyah
A.    Pendahuluan
Qawid menurut bahasa adalah dasar atau fondasi yang bertalian dengan hukum. Qawaidh adalah pegangan dasar bagi para mujtahid dalam beristinbath ahkam.
Hukum islam senantiasa berkembang dan menyesuaikan dengan kondisi ruang dan waktu, maka terdapat banyak perubahan-perubahan tetapi hanya dalam bagian hukum yang sifatnya perincian (tafsili).
B.     Perkembangan kaidah fiqhiyah
Sejarah perkembangan dan penyusunan qawaid fiqhiyyah diklasifikasikan menjadi dua fase, yaitu :
1.      Masa pembentukan
Pada imam mazhab dalam mengistinbathkan suatu hukum memiliki kerangka pikir tertentu, yang dapat dijadikan aturan pokok, sehingga hasil istinbathnya dapat dievaluasi secara objektif oleh para pengikutnya.
2.      Masa kondisifikasi
Usaha-usaha kondifikasi kaidah-kaidah fiqhiyah bertujuan agar, kaidahkaidah itu dapat berguna bagi perkembangan ilmu fiqh pada masa berikutnya, serta untuk mempertahankan lo9yalitas hasil ijtihad para madzhab.
Kalangan fuqaha hanafiyah
1)      Abu tahir al-dibasi
2)      Imam Abu Zaid Abdullah Ibnu Ummaruddin al-Dabasi al-Hanafi
3)      Zainul Abidin Ibnu Ibrahim al-Mishri
4)      Ahmad Ibnu Muhammad al- Hamawi
5)      Muhammad Abu Sa’id al-Khadimi.
Kalagan ulama fuqaha malikiyah
1.      Imam Juzaim
2.      Syihabuddin Abdil Abbas Ahmad bin Idrasal –qarafi
Kalangan ulama Syafi’iyyah
1)      Imam Muhammad Izz Al- Din Ibn Abdi Salam
2)      Iman Tajuddin As-subki
Kalangan fuqaha Hanabillah
1)      Nazmuddin al- Tufi
2)      Imam Abdurrahman Rajab
Fungsi kaidah fiqhiyah
Pertama, pada dataran aksiologis, qawaidhul fiqhiyah berfungsi untuk memudahkan mujtahid dalam mengistinbathkan hukum yang bersesuaian dengan tujuan syara dan kemashalahatan manusia, karna dengan adanya kaidah tersebut, para mujtahid dapat menggolong masalah serupa dalam lingkupan suatu kaidah.
Kedua, dari qawaidh fiqhyah adalah agar para mujtahid dapat mengistinbathkan hukum-hukum syara dengan baik dan benar, orang tidak akan dapat menetapkan hukum dengan baik apabila tidak mengetahui kaidah fiqh.
Ketiga, qawaidh fiqhiyah berfungsi untuk membina hukuk islam.
Keempat, qawaidh fiqhiyah yang bersifat kulli itu akan mengikat atau mengekang furu yang bermacam-macam, dan meletakan furu itu dalam satu kandungan lengkap.
BAB XI
Mazhab-Mazhab Fiqh
Pengertian mazhab
Alirab atau mazhab fiqh lahir dari perbedaan pemahaman teks syariah atau pemahamn tertentu.
Mazhab Fiqh
1.      Mazhab Sunni
Madzhab yang digunakan oleh golongan sunni pada saat ini, yang terkenal ada 4 madzhab. Yaitu:
a.       Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi tokohnya Abu Hanifah, merupakan buah ijtihad dari imam Abu hanifah. Beliau dikenal sebagi seorang ahli fiqh pada masanya.
b.      Mazhab Maaliki
Mazhab maliki bersumber pada ijtihad yang dilakukan oleh imam malik bin annas. Hukum-hukum fiqh yang diberikan oleh imam malik adalah berdasarkan Al-qur’an dan hadits.
c.       Mazhab Syafi’i
Mzhab syafi’i merupakan mazhab yang paling banyak digunakan oleh umat muslim di Indonesia.
d.      Mazhab Hambali
Imam Hambali merupakan seorang ulama yang sarat dengan ilmu fiqh. Saratnya ilmu agama yang dimiliki oleh Imam hambali, membuat banyak ulama yang berguru kepada beliau.
2.      Mazhab Syi’ah
a.       Mazhab ja’fari
b.      Mazhab Ismailiyah
c.       Mazhab Zaidiyah
d.      Mazhab Az-zhahiri
BAB XII
Madzhab-Mazhab Ushul Fiqh
A.    Mazhab Mutakallimin
Para ulama aliran ini dalam membahas ushul fiqh, menggunakan metode yang digunakan oleh ulama dalam membahas ilmu kalam, yaitu menetapkan suatu kaidah umum yang ditunjukan oleh nash dan atau akal tanpa terikat oleh hukum-hukum furu’ yang terdapat pada mazhab-mazhab tertentu.
B.     Mazhab Fuqaha (ahnaf)
Para ulama ini dalam pembahasan ushulnya, berangkat dari hukum-hukum furu’ yang diterima dari imam-imam mazhab mereka, yakni dalam menetapkan kaidah ushuliyah.
Besarnya perhatian ulam hanafiyah terhadap fiqh membuat ushul fiqh mereka berkaitan dengan fiqhnya dan membuat pelaksanaan penelitian terhadap hukum-hukum furu’. Kenyataan ini dapat dillihat dalam dua aspek, pertama aspek teknik pembentukan atau perumusan kaidah-kaidah ushul dan kdua, asek teknik penulisan kitab-kitab serta sistematikanya .
1.      Teknik Perumusan kaidah-kaidah ushul fiqh
Mereka mengadakan penelitian terhadap masalah-masalah furu’ dan fatwa-fatwa para ulama mereka. Selanjutnya, mengadakan pengkajian makana yang terkandung  dlam masalah furu’ tersebut, kemudian mengambil prinsip-prinsip umunya dan menjadikannya sebagai kaidah-kaidah ushuliyyah.
2.      Sistematika Penulisan kitab-kitab
Pembahasan ushul nya tidak murni teori, tetapi dicamour dengan masalah fiqh. Kaidah-kaidah ushul fiqh mereka selalu diiringi oleh masalah-masalah fiqh.
C.     Mazhab konvegerensi (al-jam’u)
Sebagaiman telah diuraikan pada ab-bab terdahulu-terdahulu, tampak jelas perbedaan metode-metode penyusunan ilmu ushul fiqh antara aliran mutakalimin dengan aliran fuqaha.
D.    Apek pemikiran
Perbedaan pemikiran antara dua aliran tersebut diebabkan karena perbedaan sudut pandang masing-masing. Adapun letak perbedaan itu, dapat dilihat pada beberapa hal, yang terpenting adalah sebagai berikut:
a.       Kekutan hujjah mafhum mukhlafah
b.      Dalalah lafadz ‘amm
c.       Hal ihwal lafadz muthlaq dan muqayyad
d.      Nilai hujjah hadis mursal
e.       Kedudukan khabar al-wahid
BAB XII
Ushul Fiqh Kontemporer
Hukum islam dibuktikan dengan karakteristik keilmuwan, yaitu bahwa hukum islam, dihasilkan dari akumulasi pengetahuan-pengetahuan yang tersusun melalui asas-asas itu terjaring dalam suatu kesatuan sistem dan mempunyai metode-metode tertentu.
Karakteristik selanjutnya dari hukum islam sebagai ilmu ialah adanya metode-metode tertentu dalam hukum islam. Metode-metode tersebut tertuang dalam ushul fiqh dan qawa’id fiqhiyah, yang dalam operasionalnya meliputi berikut ini:
1)      Metode dedutif
2)      Metode induktif
3)      Metode genetika
4)      Metode dialektika
Karateristik hukum islam sebagai ilmu di atas menunjukan bahwa apapun yang dihasilkan hukum islam adalah pokok penalaran, yang berarti pula menerima konsekuensi-konsekuensinya sebagai ilmu. Dia antara konsekuensi- konsekuensi itu adalah:
1.      Hukum islam sebagai ilmu adalah skeptis
2.      Hukum islam sebagai ilmu berada untuk sedia untuk di uji dan dikaji ulang dan
3.      Hukum islam sebagai ilmu tidak kebal kritik
Sedikitnya ada lima produk pemikiran hukum isla yang dikenal kaum muslimin dalam sejarah, yaitu kitab-kitab fiqh, fatwa-fatwa ulama,kompilasi hukum islam.
Model-model studi usul fiqh kontemporer
Sebagai agama, islam mendasarkan segala ajarannya kepada wahyu ilahi yang sempurna di dalam Al-qur’an yang disampaikan dan dijelaskan oleh Nabi muhammad sebagaimana tertuang dalam hadis atau sunnah. Karena itu, secara doktiner-normatif, setiap individu muslim harus mendasarkan segala aktivitas hidupnya pada Al-qur’an dan hadis sebagai sumber ajaran yang telah disepakati, dan ini merupakan salah satu bagian terpenting dalam ajaran keimanan islam.
BaB XIV
Reaktulaisasi Ilmu Fiqh
A.    Pembaharuan ilmu ushul fqh
Ushul fqh memegang peranan penting dan posisi strategis dalam melahirkan ajaran agama islam rahmatan lil’alamin. Wajah kaku dan keras ataupun lembut dan humanis dari ajaran agama islam, sangat ditentukan oleh bangunan ushul fiqh itu sendiri. Secara umum, kajian ushul fiqh juga tidak terlepas dari gambaran di atas, banyk berkutt pada wilayah privat dan domestik seperti perkawinan, yang bersifat ritual seperti tata cara beribadah dan lain sebagainya.
Sampai kini, tak seorang ulama pun yang berani memprolakmirkan dirinya atau diploklmirkan oleh para pengikutnya sebagai seorang mujtahid mutlaq mustaqil setingkat keempat imam mazhab. Hal ini menunjukan bahwa syarat-syarat berijtihad itu memang sangat sulit, untuk tidak dikatakan mustahil adanya.
B.     Ushul Fiqh dalam Islamic Studies
Secara epismotologis, perkembangan pemikiran islam menurut al-Jabiri, meliputi tradisi bayani, irfani, dan burhani. Tradisi bayani berkembang paling awal dan tipikal dengan kultur kearaban sebelum duni islam mengalami kontak budaya secara masif akulturatif.
C.     Rekonstruksi Metedologis : Integrasi- interkoneksi
Rekontruksi dimaksud sebagai upaya penyempurnaan atas berbagai space kosong yang belum dijamah oleh para muallif min ‘aimmat al-mazahib. Meminjam terminologi arkaun,space kosong itu bisa masuk kategori yang belum terpikirkan pada masa itu.
D.    Ushul fiqh Intgratif-Humanis
Formula ushul fiqh integratif humanis ini dimaksud sebagai prduk dari ushul fiqh yang telah mempergunakan pendekatan integrasi-interkoneksi. Sebuah bangunan ushul fiqh yang telah melakukan sejumlah perubahan, perbaikan, serta pembenahan pada dua arah sekaligus, yaitu mujtahid dan metedologis.


0 komentar: